Selasa, 16 April 2019

Sexy Kiler in My View


Tulisan ini hanya pandanganku saja. Maaf, tidak berniat untuk menyindir orang lain atau menyalahkan orang lain. 

Hallo, aku hanya seorang mahasiswi yang beberapa hari ini diresahkan dengan film yang di share oleh banyak orang melalui social media . Saat ini aku sedang tidak marah, tidak emosian, atau bahkan bukan orang yang undur diri dan memilih golput karena melihat kenyataan dalam film dokumenter ini. Bahkan untuk menulis ini juga bagian dari doaku agar aku tidak menggebu-gebu dalam emosi melainkan berhikmat untuk memandangnya. 

Terimakasih kepada saudara/i team dari 'Greenpeace Indonesia, Jaringan Advokasi Tambang bersihkan Indonesia' yang sudah berjuang untuk mengusut kasus ini. Menurutku secara pribadi ini terjadi karena para relawan ini sudah sangat resah akan kerusakan, korban jiwa, penderitaan yang terjadi yang melibatkan berbagai aspek kehidupan di daerah sekitar tambang yang tidak kunjung direspond secara bijaksana dan bertanggung jawab . Atau ada pihak/oknum yang bertujuan lain.

Belakangan ini menjelang pemilu berapa banyak dari kita (netizen) yang telah menghabiskan waktunya dengan mencari informasi 'siapa paling benar, siapa paling pantas' untuk menduduki kursi presiden periode mendatang? Berapa banyak dari kita yang sudah menghabiskan waktunya untuk menghujat? Menyalahkan? Menyakiti teman-teman karena lisan? Membangga-banggakan salah satu paslon? Lalu bagaimana anggota legislatif lain DPD, DPR ? Mereka penting bukan? Sudah kita perlakukan sama kah mereka dengan capres/cawapres? Bukankah nantinya mereka yang mewakili kita untuk meneruskan aspirasi kita ? Yang katanya akan membela kita sesuai daerah kita? 
Lalu apa motif film ini dimunculkan dimasa minggu tenang kampanye?

Beberapa waktu lalu, temanku yang baru menonton ini mengatakan bahwa film ini tidak untuk konsumsi publik bahkan hanya ditonton oleh pihak-pihak yang berkepentingan untuk membuka mata kita terhadap kondisi ini. Jikapun akan dipertontonkan ke publik, dia bilang mungkin setelah pemilu usai. Tapi 2 hari ini film ini menjadi konsumsi publik. Lalu aku melihat dan membaca postingan teman-teman yang menyatakan 'Karena menonton ini banyak yang memilih GOLPUT'. Bukannya tidak memilihpun adalah pilihan ?

Oiya, Kamu? Iyaaa kamuuuu... Sudah tonton film 'Sexy Killer'? Apa reaksimu? Apa yang kamu fikirkan?

Maaf, kalau aku harus menulis ini. Karena akupun bersalah dalam hal ini. 

Menyadari pembangunan ini terjadi dan dilakukan semakin besar karena memang kebutuhan masyrakat yang mendesak akan keadilan dalam pengadaan alat penerang, alat-alat kesehatan, mesin-mesin, dan segala aspek yang membutuhkan listrik untuk memperlancar cara kerjanya agar dapat dimanfaatkan dengan baik. Lalu? Iya, pun kita sudah memahami teori kehidupan ' Sesuatu pencapaian besar dapat berhasil juga karena ada hal-hal besar yang harus dikorbankan'. Apakah kehilangan nyawa dan penderitaan sebagian masyrakat termasuk berkorban? *ini aku bertanya, menurutmu bagaimana?* Pada satu sisi, ada pihak yang diuntungkan bahkan kekayaan semakin melimpah, namun disisi lainnya ada masyrakat yang terancam kesehatannya, penghasilan/ekonomi dalam rumah tangganya, kehilangan lahannya yang tidak berfungsi optimal karena pengaruh pertambangan. Dalam kata lain, menderita atas kebijakan pembangunan dan pertambangan tersebut yang sebagian kita tutup mata. Iya kan?

Lalu berapa banyak dari kita yang menyadarkan diri setelah menonton film dokumenter 'Sexy Killer' yang berdoa dan memohon ampun karena melewatkan beberapa bagian kehidupan yang tidak pernah menjadi perhatian khusus kita. Misalnya :
- Menyadari bahwa menjadi orang pintar itu memang perlu, tapi menjadi orang baik dan jujur itu lebih dibutuhkan. 
- Menyadari bahwa pendidikan karakter jauh lebih dibutuhkan, agar ketika jadi seorang pemimpin tidak menyalah gunakan jabatan kita demi kepuasan diri. 
- Menyadari, bahwa pendidikan itu penting. Supaya kita ga di tipu oleh orang lain lantas menyalahkan orang lain juga karena kebobrokan kita sendiri. Iya kan?
- Karena aku masih seorang pelajar yang kebetulan dibagian pertanian maupun lingkungan dan tanah , sadar kalau masa-masa di ruang kuliah tersebut perlu meskipun terkadang kita hanya mengenal teorinya. Sampai aku berfikir ' Oh HGU? Ini fungsinyaa dalam skala luas yaa.. AMDAL? Oh ini dampaknya ' belum lagi aspek tanah, pertanian, sosial ekonomi,kesehatan, lingkungan yang membuat mataku terbelalak menonton ini. Aku fikir semua aspek itu perlu sebagai apapun kamu dan jurusan apapun kamu, pasti bagian ini jadi salah satu sorotanmu. 
- Jika kamu kaum muda yang sedang membaca ini, Sudah menyadarikah hemat listrik itu PERLU, lihat saja dampaknya.. Mau berapa banyak korban jiwa yang kita jatuhkan karena hasrat diri kita akan LISTRIK tak bisa dikontrol dengan baik sesuai kebutuhan? Sebenarnya ini hal paling signifikan, KEBUTUHAN AKAN LISTRIK dan CARA KITA MEMPERGUNAKANNYA. 

Adakah yang bernasib sama denganku ketika harus berdebat dengan Bapak atau Mama karena penggunaan listrik? Hehe saat itu aku memang masih SMP dan orangtuaku bilang 'SOK TAHU KAMU' dan dua minggu kemudian nyata yang aku sampaikan tentang korslet listrik atau meledaknya saklar. Aku berharap orangtuamu tidak seperti itu kini, kalau iya berbicaralah baik-baik. Adakah yang bernasib sama denganku ketika memutuskan sambungan listrik dan mematikan lampu karena hari sudah terang, mencabut stok kontak dari saklar langsung ditatap sinis oleh teman ? Atau bahkan ada yang bilang ' GAPAPALAH KAN BUKAN KITA YANG BAYAR!'. Ada yang bertemu dengan orang demikian? atau kamu yang menyebutkan demikian?

Lalu menyalahkan pemerintah karena adanya penambangan besar-besaran ? Eksploitasi lahan disana-sini , Transmigran yang menjadi korban eksploitasi, kerusakan lahan dan lingkungan hidup, kemerosotan tingkat kesehatan masyrakat, kerusakan terumbu karang, nelayan terlantar, perekonomian melemah. Lantas salahkan sana sini. Menuntut keadilan. Iyakan? Ternyata segalanya diawali dari diri kita sendiri.

Hufft aku lega sudah menyatakan ini. Maaf tulisan ini membosankan.
Teman-teman, boleh aku meminta? Meminta untuk kita semua.
Jadilah anak muda yang baik, yang terus memperbaiki karakter diri, yang tak melulu menyalahkan orang lain atas keadaan kita. Aku dan kamu, kita semua mari kita berjuang. Kitalah harapan bangsa ini. Teman-teman anak muda, kitalah besi panas yang harus berjuang agar dapat dibentuk menjadi sesuatu berguna dan bermanfaat, sebelum akhirnya waktu mulai mendinginkan besi lalu kita terlantar. Jadilah orang muda yang tak melulu memperdebatkan perbedaan dan SARA. Jadilah kita sebagai duta damai atas diri kita sehingga sikap hidup kita juga menjadi pendamai bagi orang lain. Sesederhana itu. Jadilah kita pemuda/i yang enggak baperan atas pernyataan satu orang lalu menyalahkan semua orang kaumnnya. Jadilah kita kaum muda yang mau dan siap belajar untuk beritegritas dalam hidup ini. 


250 juta jiwa dengan 250 juta pemikiran yang berbeda. Itu tidak mudah melakukannya. Hanya saja dapat kita mulai dari diri kita sendiri. Mari berefleksi bersama 'Untuk apa aku hidup di dunia ini? Kemana aku setelah ini?' KITA SEMUA BERHARGA, SEBAGAI APAPUN KITA SAAT INI. Semogalah kita yang terus berpengharapan kepada Sang Pencipta. Semogalah Tuhan memampukan kita dalam keterbatasan kita bertindak. Semogalah Tuhan memimpin kita seturut iman kita. Akhir kata, Terimakasih sudah bersedia membaca tulisan ini ya. GOD BLESS US.

KARENA MASA DEPAN SUNGGUH ADA, DAN HARAPANMU TIDAK AKAN HILANG
AMSAL 23 : 18

Sabtu, 23 Maret 2019

Hadiah Terbesar - 23/30 Hari Bersama Kitab Yakobus


23/30 Hari Bersama Kitab Yakobus
Yakobus 4 : 7-10

        Aku ingat sewaktu kecil aku senang mewarnai ayat-ayat dan perintah yang aku suka, bagian Alkitab yang enak didengar dan mudah untuk ditaati. Alkitabku bisa dibilang cukup bersih, karena ada banyak kebenaran yang tidak mudah aku terima dan terapkan, dan karenanya, aku memilih untuk mengabaikannya. Lagipula, mengapa aku harus mengasihi sesamaku seperti diriku sendiri (Markus 12:31) jika aku bisa saja berfokus untuk mengasihi diriku sendiri? Mengapa aku harus lebih dahulu mengampuni (Matius 18:22) orang-orang di sekitarku saat orang-orang itu bersikap kejam kepadaku? Mengapa aku harus hidup dalam damai (Roma 12:18) jika aku bisa berdiri sendiri dan memilih siapa yang harus aku singkirkan? Pergumulan yang sungguh tidak mudah.
   
        Terus terang saja, tunduk kepada Allah—baik kepada firman-Nya atau pribadi-Nya—lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Dibutuhkan komitmen yang besar untuk menyingkirkan keegoan kita dan hak-hak yang menurut kita sudah selayaknya kita dapatkan, demikian pula untuk taat kepada Tuhan dengan kerendahan hati. Mengakui kedaulatan Tuhan dan percaya bahwa Dia tak pernah gagal, bukan sesuatu yang gampang diterapkan. Kita bisa merasa takut, apalagi saat menyadari bahwa mempercayai Tuhan itu berarti melepaskan kendali atas situasi yang sedang kita hadapi. Dunia dan daging kita secara konsisten terus menggoda kita dengan dusta, mengatakan bahwa akan lebih baik dan menyenangkan bila kita tetap mengendalikan situasi dan membuat keputusan-keputusan yang memuaskan keinginan dan harga diri kita yang egois.

        Meski demikian, Yakobus mengajar kita untuk tunduk kepada Tuhan dengan kerendahan hati (ayat 7). Aku bersyukur bahwa Yakobus tidak sekadar meninggalkan kita dengan sebuah perintah tanpa banyak penjelasan tentang bagaimana menaati perintah itu. Yakobus di sini menyediakan kita langkah demi langkah prosesnya dan menyimpulkan semuanya dengan tema yang sama tentang ketaatan yang rendah hati dalam ayat 10. Sebelumnya, Yakobus sudah menyoroti tentang konsekuensi persahabatan kita dengan dunia (Yakobus 4:4). Sekarang, ia mengingatkan kita bahwa penundukan diri yang ditunjukkan melalui ketaatan kita kepada Tuhan itu harus dilakukan dengan sengaja. Dibutuhkan perubahan total dalam hati—sebuah resolusi untuk mencintai Tuhan daripada dunia. Yakobus menantang kita untuk mengesampingkan keinginan kita, mempertimbangkan dan melakukan apa yang Tuhan mau kita lakukan.

    Kita diberitahu untuk tunduk dengan dua pendekatan—dengan melawan iblis (ayat 7b), dan mendekat kepada Allah (ayat 8a). Melawan berarti menolak dengan kesadaran penuh, aktif dan terus-menerus. Kita seperti sedang berperang melawan iblis, menangkis setiap tuduhan dan dusta yang ia lemparkan, dan pada akhirnya menang melawan godaan. Menjauh dari iblis, kita berbalik arah dan mendekat kepada Allah. Ini dapat dilakukan melalui doa dan membaca firman-Nya. Datang mendekat kepada Tuhan mengharuskan kita untuk menahirkan tangan kita dan menyucikan hati kita (ayat 8b). Kita harus melakukannya dengan fokus yang jelas dan tekad yang kuat—kita tidak lagi mengizinkan hati kita goyah dan kembali pada kondisi lama kita yang berdosa.

        Semua tindakan ini menyimbolkan usaha luar dalam yang kita lakukan demi berdamai dengan Allah. Sebuah instruksi untuk membersihkan apa yang tidak tampak (pikiran kita) dan juga apa yang tampak (perbuatan) kita. Bahkan faktanya, diri kita yang berdosa itu begitu kotor dan menjijikkan di hadapan Tuhan sehingga kita diperintahkan untuk “Sadari kemalanganmu, berdukacita dan merataplah” (ayat 9). Sebab itu, memilih untuk datang kepada Tuhan dalam pengakuan dan pertobatan adalah tindakan yang berharga. Pada saat itulah pengudusan mulai terjadi.

        Melakukan semua hal di atas mungkin terdengar sulit dan melelahkan, tetapi Yakobus melanjutkan suratnya untuk meyakinkan kita tentang hadiah yang akan kita terima. Saat kita mendekati Tuhan dengan tangan yang bersih dan hati yang sudah disucikan, kita tidak sekadar menerima pujian. Kita menerima hadiah terbesar—Tuhan sendiri—saat Dia datang mendekat kepada kita (ayat 8).
Secara pribadi, selalu mengarahkan mataku pada upah yang luar biasa ini menyemangatiku untuk datang kepada Tuhan setiap hari dalam ketaatan dan pertobatan saat aku memilih untuk menyerahkan kehidupanku kepada-Nya. Kiranya hadiah terbesar itu menyemangati kamu juga. —Constance Goh, Singapura

       Sharing diatas sangat mengena dihatiku saat aku sedang bergumul dengan panggilan kekristenanku, semoga berkenan juga bagi kamu yang membaca. Bahwa memang semua hanya karena Proses. Jika tidak dinikmati, maka memang semua akan terasa berat. Tapi percayalah, kalau kita FOCUS ON GOD, dan dengan jujur berkata dengan Dia mengenai keterbatasan kita, pasti Tuhan akan mampukan. Selamat melawan egoisme, dan hidup dalam kasih. Tuhan memberkati kita 🙏


x

Sabtu, 01 Desember 2018

The Hope of The World




Tulisan ini aku persembahkan untuk Allah, Sang Pemilik Pelayanan ini. 
Terimakasih untuk kasih-Mu tiada henti.

Jika aku boleh jujur, maka hatiku hanya ingin berkata ' Terimakasih Yesus, untuk kejadianku. Dahsyat dan Ajaib apa yang Kau buat dan akupun menyadarinya '. 

Bahwasanya ini bukan tentang aku atau mereka, melainkan Dia. Sang Pemilik hati setiap manusia yang percaya kepada-Nya. Sungguh bukan karena kuatku, tapi Allah telah mengendalikannya untukku, dan kita semua dari masa ke masa. Dia tetap sama kemarin, hari ini, esok, dan sampai selamanya.

Sejujurnya, untuk berdiri di depan sana bukanlah kemampuanku, tapi Tuhan mampukan untuk melakukannya. Sungguh dalam +/- 2 bulan masa persiapan aku sangat bergumul untuk berjuang menjadi MC Ibadah Perayaan Natal kali ini, padahal sebelumnya sudah biasa menjadi MC diberbagai kesempatan dan acara. Bahkan ini mungkin kali ke-3 aku nge-MC diacara Natal. Tapi ada rasa TIDAK LAYAK dalam hatiku ketika disharingkan untuk menjadi MC saat itu yang terus menghantuiku waktu demi waktu. Minder juga sempat , karena berfikir siapa aku yang akan memimpin Ibadah Raya Natal ini ya Tuhan ? (aku masih merasa lemah, kecil, pendosa). 

Hingga, waktu demi waktu membawaku untuk terus mempersiapkan diri. Persiapan demi persiapan seperti biasanya kita latihan, kontak doa, puasa, melekat dengan firman. Sempat satu waktu, menjelang hari H hujan begitu derasnya, dan malam hampir larut aku harus balik sendirian. Jarak dari Sekre (tempat latihan) menuju Kos itu +/- 30menitan dengan separuh basah sepanjang jalan aku bergumam "Ya Tuhan, punyaMulah pelayanan ini, ber-otoritaslah dalam kami terlebih aku. Kau tahu aku, cacat lemahnya hidupku. Hingga waktunya tiba nanti, bukan aku yang berkata-kata melainkan Engkau yang berkata-kata melalui aku" kalimat itu berulang-ulang aku ucapkan setiap kali aku mengingat akan perayaan ini. 

Hingga masa GR pun datang, aku tetap merasa tidak Percaya Diri dengan diriku ( Tuhan bagaimana mungkin Selli yang pendek ini nge-MC di ibadah raya ini? Bagaimana mungkin Selli yang suaranya cempreng, gakenal tangga nada ini bisa berdiri didepan sana memandu pujian? terlebih sebelumnya aku membaca artikel tentang 'Worship Leader'. Aku semakinnn ga PD)....

Betapa bersyukurnya aku, begitu banyak yang memperhatikan dan mempedulikan pelayanan ini. Di tengah kekuranganku pun mereka masih tetap memberi masukan yang menguatkan dan menyemangati hidupku. Bisikan yang kudengar ' Dek, Semangat. Tuhan tahu isi hatimu, berdirilah teguh! ; Dek, sudah baguss ayo tingkatkan lagi keluarkan suaramu sebab yang akan mendengarkanmu ada 300-an orang banyaknya nanti! ; Dek, PD saja kalau ada yang salah kata tetap enjoy, nikmati setiap kata demi kata karena mu yang akan membawa jemaat menikmati Dia. Dek, Tuhan memampukanmu ya (sambil memelukku). Sungguh pelukan yang menenangkan '. 

Saat hari H dan pembicara nya adalah Kak Triawan Wicaksono (Sekjen PERKANTAS Nasional) begitu hikmat membawakan firman dan tidak sedikit yang terhanyut dan menitikkan air mata seraya melihat harapan baru ditengah dunia kelam dengan kacau balaunya dalam berbagai aspek kehidupan kita. Kadang sempat mikir, gimana mungkin aku harus berusaha memikirkan orang lain (yang notaben nya bukan sekeluarga/sedarah denganku) sementara aku juga masih berjuang untuk diriku ? Tapi Tuhan panggil dan pakai untuk mengerjakannya. Kita bersama menjadi rekan sepelayanan-Nya. Jatuh dan Bangun, Sehat dan Sakit, Tawa dan Tangis, Suka dan Duka semuanya Dia pakai untuk memperlengkapiku, menguatkanku, dan mendewasakan imanku. Again, Praise The Lord! <3

dan Ya, Alkitab berkata 'Dia memanggil kita bukan karena kuat dan hebat kita, melainkan bagaimana kita menggunakan kelemahan  dan pengalaman kita menjadi kekuatan dan saksi bagi-Nya. Dia tidak meminta untuk kita melakukan yang sempurna, tapi Dia meminta kita 'Beritakanlah Kabar Keselamatan, sampai ke ujung dunia merasakan KASIH-NYA.' Seperti 1 Timotius 4 : 12 katakan : " Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu ". 

Akhir kata, terimakasih untuk:
Kak Triawan Wicaksono sebgaian Pelayan Firman
Staff  (Ka Togi, Ka Fris, Ka Ket, Bang Bet) yang terus mendampingi kami selama persiapan
Panitia yang ambil bagian dalam pelayanan ini (Doa dan Kerja Cerdasnya)
Pelayan Acara yang sudah mengemas tata ibadah dengan sebaik-baiknya
Buat koordinator acara 
Buat Tim Worship ( Bang Herbet, Bang Ari dan Andi sbg pemusik. Sarina, Meyer, dan Wanly sebagai Song leader )
Buat seluruh PAK yang mendukung dalam doa dan dana serta persiapan lainnya
Dan seluruh Jemaat yang meringankann langkah dalam perayaan NATAL PERKANTAS PADANG 2018


With love,
Selli Marianita Simatupang

Selasa, 09 Oktober 2018

KKN Essaystory


WE GO , WE SERVE , WE LOVE
                                                                       
Oleh: Selli Marianita Simatupang
Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan sebuah kegiatan pengabdian masyarakat oleh mahasiswa/i perguruan tinggi Negeri/Swasta dengan pendekatan lintas keilmuan dan sektoral pada waktu dan daerah tertentu setingkat desa. Pelaksanaan KKN menjadi salah satu hal yang patut disoroti karena termasuk dalam kegiatan intrakulikuler yang memadukan tri dharma perguruan tinggi yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyrakat.
Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Andalas 2018 yang bertempat di Desa Sidomakmur, Kec.Sipora Utara Kep. Mentawai mengambil tema Nagari Development Center (NDC) yang diarahkan oleh pihak PU-KKN Universitas Andalas bertujuan untuk mendemonstrasikan kepada masyrakat tentang percepatan pembangunan nagari yang ada di Sumatera Barat dengan memberdayakan dana desa yang dilakukan untuk perencanaan dan analisa program, sehingga berdampak terhadap ekonomi masyarakat secara langsung  dan mempersiapkan daya saing dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asia (MEA) wilayah Kep. Mentawai yang menjadi lokasi strategis pariwisata mancanegara.
Desa Sidomakmur terdiri dari 3 Dusun yaitu Sinabak, Boleleu, dan Makkodiai dengan sumber mata pencaharian masyarakat yang beragam dan beragam pula suku budayanya. Pada Minggu pertama sampai di lokasi KKN ini, kegiatan saya  didampingi 3 orang teman dari Fakultas Pertanian bersama dengan penyuluh Kemensos (Kementrian Sosial) Kep. Mentawai bekerjasama untuk mengajak masyrakat Sidomakmur memanfaatkan lahan marginal untuk dijadikan sebagai lahan penanaman Ubi Kayu guna mengembalikan fungsi lahan yang sempat tidak terawat (luput dari perhatian) dan  penambah pendapatan masyrakat dalam  Kelompok Tani. Selain dengan mensosialisasikan cara menanam ubi kayu yang baik dan benar untuk meningkatkan produktivitas lahan, kegiatan ini dibarengi dengan sosialisasi pengelolaan keuangan masyarakat yang sebagian besar menerima bantuan dana sekolah dari pemerintah sehingga dapat di alokasikan dengan baik terhadap kebutuhan rumah tangga, sekolah anak, gizi anak dan tabungan keluarga. Pada waktu yang sama juga melakukan sosialisai perbaikan gizi anak yang ada di desa Sidomakmur.  Saya sangat bersyukur karena masyrakat Sidomakmur adalah masyrakat yang menerima, ramah dan perhatian terhadap mahasiswa/i KKN Universitas Andalas.
Hidup dalam masyrakat yang sebelumnya tidak pernah berfikir untuk bertemu mereka, bahkan tidak pernah membayangkan dapat melakukan berbagai kegiatan dalam wadah pengabdian masyrakat di desa ini menjadi salah satu hal yang saya syukuri. Lingkungan masyarkat yang saling mendukung, tolerasi beragama yang sangat baik menjadi acuan saya bertindak untuk melakukan hal-hal baik lainnya. Menerima dan diterima, menghargai dan dihargai, memberi dan diberi, mengasihi dan dikasihi yaaa hal-hal itu menjadi hal yang tidak asing bahkan membuat haru perjalanan KKN saya. Menatap indahnya langit dan pesona bumi Mentawai menjadi bonus khusus bagi saya. Namun masih ada beberapa yang sangat saya sayangkan, karena pengelolaan lahan dan tata ruang wilayah ini yang belum memadai. Besar harapan bahwa pemerintah Sumatera Barat mau mengambil bagian untuk pengembangan wilayah ini menjadi sebuah desa yang dapat mewujud nyatakan program KKN “Nagari Development Center” dalam upaya pemerataan antar golongan masyrakat dan pemerataan antar wilayah sebagai pusat pertumbuhan ekonomi kreatif yang didukung oleh sarana infrastruktur yang diperlukan.
Selain itu banyak program yang turut saya kerjakan bersama dengan teman-teman seperjuangan lainnya, banyak belajar dari mereka dan cara hidupnya ketika tinggal serumah selama KKN. 21 Orang dengan isi kepala yang berbeda dengan waktu yang tergolong singkat untuk mengenali mereka secara pribadi, namun saya bersyukur memiliki teman seperti mereka. Saling membangun dan memotivasi, bekerjasama , bahkan menegur ketika salah. Saya juga menikmati waktu pengenalan kepada masyarakat dari masa survey hingga akhir. Mengenali sejarah desa dan potensi desa ini menjadi sebuah hal yang luar biasa bagi saya bisa mendengar dan didengarkan ketika berbagi. Menemui warga kerumah-rumah untuk sekedar bercengkrama, membantu pekerjaan mereka sehari-hari seperti mencanting dan memproduksi keripik khas mentawai (Keladi/talas, Jambu, Nangka, Ubi,Sukun). Melakukan aksi menginspirasi kepada anak TK akan pentingnya pengenalan buah dan sayur untuk peduli gizi seimbang, kepada anak SD memotivasi agar mengenali potensi diri dan semangat bercita-cita, bahkan anak SMA untuk memotivasi siswa/i dalam melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi “long life education” hehe.. Serta berbaur kepada masyrakat.
Menjelang akhir, mahasiswa/i KKN Universitas Andalas diminta oleh aparatur desa untuk tetap tinggal hingga HUT Kemerdekaan RI-73. Itu adalah pengalaman berharga ketika dipercayakan dari Desa Sidomakmur kepada Univeristas Andalas dalam mengangkat acara perayaan HUT Kemeredekaan RI-73 yang berlangsung sejak tanggal 13-17 Agustus 2018. Mulai dari susuan panitia, rencana pelaksanaan acara, peralatan dan perlengkapan, bahkan pengumpulan dana kita lakukan bersama-sama dengan berkoordinasi terhadap aparatur desa lainnya. Saya baru menyadari betapa berharganya saya menjadi mahasiswa ditengah masyarakat ini. Entah apa yang dipikirkan masyrakat, lembaga/konstitusi sehingga betapa diseganinya kami dengan status “mahasiswa”. Lagi-lagi menjadi hal yang sangat saya syukuri bertemu dan mengenal serta berbagi dengan mereka. Pernyataan kebanggan “Mahasiswa adalah agent of changes” menjadi hal yang menyadari status kemahasiswaan ini menjadi dasar pertumbuhan masyarakat dan kemajuan bangsa dimasa mendatang.
Keberlangsungan acara perayaan HUT Kemerdekaan RI-73 ini menjadi cermin diri dari masyarakat setempat dan kami mahasiswa/i KKN Universitas Andalas. Antusias masyarakat dari anak-anak hingga dewasa sangat luarbiasa bahkan turut mengambil bagian dalam setiap bidang kegiatan, sehingga sebagai panitia juga sangat semangat untuk melaksanakannya. Malam menjelang perayaan tersebut usaha dan kerja keras panitia  perlengkapan bahu-membahu hingga larut malam demi keberlanjutan acara ini. Panitia acara memanajemen waktu kegiatan sedemikian rupa, tim dana yang tidak kalah tangguh berkeliling untuk memaksimalkan perayaan, dan seluruh elemen masyrakat yang mendukung hingga pada akhirnya acara ini dikatakan “sangat sukses”. Perayaan HUT Kemerdekaan RI ditutup dengan pelaksanaan Upacara Kemerdekaan RI pada hari Jumat,17 Agustus 2018 lalu. Keharuan itu semakin nyata ketika anak-anak masyarakat berbondong-bondong menghampiri saya dengan salam perpisahannya masing-masing. Ada yang memberi kenang-kenang bahkan ada yang berpuisi ria menyampaikan salam pisahnya hehe drama banget tapi saya yakin itulah isi hati mereka. “Kak, kalau ada waktu main kesini ya.. ; Kak, apa itu kuliah ? ; Kak, tahu kenapa cuaca mendung dan ada badai? Karena kami belum siap melepas kepergian kakak...” Yaampun sedihnya menusuk ulu hatiku, lalu saya bercerita kepada mereka dan memberikan semangat untuk memotivasi mereka menggapai cita-citanya serta menjadi orang yang berguna dimanapun ditempatkan nantinya. Pada saat itu saya meyakini bahwa kegiatan KKN ini sungguh bermanfaat untuk mahasiswa/i yang bersedia dari hati yang terdalam melakukannya. Yaaa saya menyebutnya “We Go, We Serve, We Love”. Ketika kami diutus Kampus untuk mengabdi maka kami pergi, kami melayani, dan kami mengasihi seluruh elemen masyarakat yang ada di dalamnya.
Terimakasih kepada Tuhan untuk kesempatan ini. Terimakasih kepada pihak PU-KKN yang telah menempatkan saya dan teman-teman di desa ini. Terimakasih kepada teman-teman se-per-KKN-an saya, untuk tenaga, waktu, pikiran, hati dan perngorbanan selama 47 hari kita mengabdi bersama di Desa Sidomakmur.




Senin, 06 Agustus 2018

Sesuatu Yang Belum Usai




Ternyata menjadi semakin tua itu berat...
Kemanapun beranjak harus memiliki tujuan,
ada saja tuntutan...
Terkadang manis dan sedap untuk didengar,
namun setiap kali badai masalah menerpa tidak jarang keluh kesah tersirat...
Namun, kucoba berlari dari keramaian menuju keheningan
untuk berlutut menghadap-Nya sumber pengharapan dan kekuatan...
Sejenak bersandar dalam Kasih-Nya, legaa... Tenang...
Akhirnya aku sadar, masalah itu bukan penghalang
tapi untuk memberitahuku bahwa aku sedang naik satu langkah lagi
ohhh iyaaa... Semangattt harus kuat...
Karena ku akan naik kelevel yang lebih tinggi pikirku
kusebut ia “Kedewasaan”...
Usai itu, aku kembali melanjutkan perjalanan...
Perjalanan yang belum usai...
Diujung jalan ia menunggu...
Untuk ku gapai, melambung tinggi... Kisah kasih dari sebuah cita-cita...

Kupersembahkan pelayanan terbaik yang mampu aku lakukan
untuk Menyenangkan-Nya, Memuliakan  Dia,
pencipta semesta yang tidak terbatas...
Ditengah keterbatasanku sebagai manusia yang lemah dan rapuh...

Dengan pertolongan-Nya akan kususuri disetiap sudut jalan itu...
Iyaa sesuatu yang belum usai...

Terimakasih Tuhan untuk hidupku...
                                                          

  with love,
Selli Marianita Simatupang



Rabu, 17 Mei 2017

Kata orang "My Trip My Adventure"

         Perjalanan 1000 mil dimulai dari satu langkah (begitu kata pepatah).
         Ahh sangat cepat waktu yang kami habiskan utk merencanakan perjalanan ini. Sore itu sebelum jogging aku dan temanku (sebut saja  Erika) menyinggahi kos senior kami. Awalnya hanya beradu argumen tentang "Aku kuat ga ya?" Muncullah beberapa telaah yang menantangi diri. Tak berfikir panjang akupun setuju [Karena Minggu sebelumnya aku gagal mendaki karena ada praktikum lapangan yang mendesak]. Seminggu berlalu dari pertemuan ini, masih tak ada persiapan. Seperti yahh biasanya akan "gagal planning". Namun mengesankan, ketika aku masih dikampus [ Jam menunjukkan 23.20 Wib ] mereka menghubungi "Sudah bagaimana persiapan? Apa yang perlu ditambahi?" Sontak aku kaget yaa sok terkejut wkwk padahal karena takut gajelas jadi ga prepare. Ketepatan malam ini aku masih ada rapat inagurasi fakultas, kusibukkan diri menghubungi temanku yang aktif dalam KOPMA (Seperti Mapala tapi unit Fakultas) Tap tep tip top tup! Yeaah kutemukan orang-orang yang akan kukunjungi utk memenuhi kebutuhan untuk mendaki . Aku pulang 01.42 WIB (Mendadak aku ragu berangkat, mengingat kondisi udah hampir subuh dan aku belum beristirahat khawatir akan hal buruk yang menimpa. Tapi, sebut saja Bang Roy bilang kalau mau mendaki jangan setengah-setengah harus niat penuh ayolahhh... kulanjutkan tekadku).
        *Setelah selesai packing, kami memulai perjalanan... Berkati kami Tuhan, gumamku..* Kami sampai di posko start ketika jam menunjukkan pukul 4 sore. Dan perjalananpun dimulai. Dengan sukacita kami melangkah berharap cuaca dan medan perjalanan mendukung keberangkatan kami. Kurang lebih 5 jam kami menghabiskan waktu diperjalanan untuk sampai ke cadas (kaki gunung). Huaahh rasa hati tertipu, karena sebelumnya aku baca beberapa artikel untuk sampai cadas hanya ada 54 rambu, tapi kenyataanya kami harus berjuang lebih keras untuk mencapai rambu ke 84 untuk sampai cadas -__- Ada hal-hal lucu ditengah lelahnya perjalanan itu.. * Laek den ko mah, ciek di Padang ciek diPasaman.. *Bang, tunggu bangg capee.. *Bang, senter bang gelap.. *Istirahat lah dulu kita lek sumpah naik betisku.. *Lek tunggu dulu 2menit ajapun.. *ketemu jalan datar bak bonuss bgt loh ya.. *Ah salah bawa orang aku bah Ger, masa lebih kuat si Selli sama Erika? Si said ini lagi tahapahapa.. Rasanya kalo ingat itu rada ga percayalah hahaha :v Sampai cadas, hari sudah semakin gelap dan jam menunjukkan pukul 21.40 (Buseettt kita belum makan oii, ayo dirikan tendaa.. Yang satu langsung tepar, yang satu cari kompor, beberapa lainnya mendirikan tenda ) Egk mikir panjang makan apa adanya bangett karena suhu udara ga mendukung utk berlama-lama diluar tenda. Habis makan TEPARRRR (Aku dan Erika, karena memang tidak tahan dingin kaliyaaa wkwk).
         Pagi sekali kami melanjutkan perjalanan sampai puncak. Ah rasanya kondisi fisik mulai menurun dan medan semakin berbahaya hanya batuan, jalan licin, terjal, dann air minum tidak dibawaaa *hahhhh sial bgt rasanya dehidrasi menghirup sulfur yang kian membanyak menjelang siang. Ketemu orang nawarin minum ga mikir panjang di Iyain aja [ Masa bodo itu air apaan , ya tahulah kufikir mata air disana jernih ehh yaampun tolong tolong bgt bauunya ga sedapp tah apalah itu yang penting minum nambah tenaga wwkwk ] . 1/3 bagian sampai puncak aku mulai give up, "Bang udahan lah aku ya, kalian aja lanjut. Inipun uda tinggi kok, cape bangetttt haaa.." "Loh, kok gitu? Jangan setengah-setengah dek, bahaya. Ayolah kuyakin kau bisa berjuang hingga diluar batas kemampuanmu...". Cukup membuatku bersemangat lagi untuk melanjutkannya.. Dannnn tang teng ting tong tung... Akhirnya kami sampai atas (Yang lain sibuk dengan kegiatannya). Kurebagkan badanku diatas Matras itu, melihat sekelilingku.
     Akhirnya, Huaaa Terimakasih Tuhan. Kupandangi bawah atas kanan kiriku, Luar biasa ciptaan Tuhan. Sepanjang jalan aku hanya bisa bilang "Siapakah aku ini Tuhan? Jadi biji mata-Mu...". Bertepatan hari itu adalah hari Minggu, kuambil HP untuk memuat ibadah singkat pribadi melihat isi renungan hari itu tertegun rasanya.. "Dikasih Selamanya" tema renungan hari itu. Begitupula yang aku rasakan, Allah sangat mengasihi aku dan teman teman sependakianku. Cuaca yang baik, kebutuhan yang cukup selama pendakian semua Ia sediakan bagi kami. Bahkan terkadang penolakan, kekecewaan bahkan sakit hati akan sesama yang membuatku gagal bertumbuh. Dia nyatakan padaku, untuk mengingat-Nya senantiasa. Bahwa Ia adalah pribadi yang tak pernah berhenti untuk mengasihiku..
Aku bersyukur banyak sekali pelajaran yang kudapati. Dimulai dari team satu perjalanku, orang yang kutemui sepanjang perjalanan, orang-orang yang berusaha untuk aku kenali dalam perjalanan bahkan lingkungan sekitar gunung yang membuatku sedikit mengernyit dahi.
Dulu lima tahun lalu, aku adalah anak baru remaja yang juga memiliki hobby 'Hiking' bersama dengan team relawan PMR/MAPALA daerah asalku Labuhan Batu. Namun, itu hanya berlangsung selama 2010-2012 saja *ketika aku duduk dibangku SMP* . Pendakian kami dulu adalah pendakian guna meninjau keadaan lingkungan juga ada bagian kegiatan penanaman pohon, dan kegiatan lain yang kami lakukan diatasnya yang tidak meninggalkan bekas (read: sampah) diatas. Berbeda dengan perjalananku kali ini, sampah berserakam dimana-mana sedih kali rasanya. Padahal sebelum mendaki, posko awal sudah menegaskan "Jagalag kebersihan, jangan meninggalkan sampah". Membekas sakitnya, sehingga ketika kembali ke cadas dan packing untuk pulang aku berusaha mematahkan gengsiku mengutip sampah sekeliling *ya meskipun bukan punyaku, fikirku*.
Bisik seorang abang, " Ah dek, ngapain dikutipin? Nanti adanya yang ngutipin lagi itu untuk dibakar ". | Oh iyanya bang? Kalo gada yang ngutip gimana? Semakin kotor lo dilihat.. Yasudalah bang, nggak papa kok | Toe ma dek, asa pos roham...
Kami hanya butuh waktu +/- 3 jam untuk turun .
.
.
.
Diatas seganyalanya ku mau bilang Thank Lord, masih banyak yang tak bisa aku jelaskan sisini. Hanya beberapa bagian singkat cerita kami. Mengesankan? Iya menurutku. Kelak pasti tulisan ini ku rinduu... Terimakasih utk semua yang berperan. Blessed journey~

Sumatera Barat, 29-30 April 2017
Mt.Talang 2597 mdpl

Jumat, 24 Maret 2017

My blessed day. 20 years old!


Jikapun yang terlihat dariku adalah sebuah kebijakan itu adalah didikan ibuku.
Jikapun yang terlihat dariku adalah keberanian maka itu adalah didikan ayahku.
Jikapun yang terlihat dariku adalah kebaikan maka itu adalah didikan guruku.
Jikapun yang terlihat dariku adalah kesabaran maka itu karena adik-adikku.
Namun, bila terkadang masih saja ada tindakan yang tidak berkenan, ucapan yang menyakiti, tangan/kaki yang mendukakan dari diriku, Maafkan aku karena saat itu aku sedang mengabaikan nasehat mereka.
Kala itu, tepatnya dua puluh tahun lalu. Ada seseorang yang telah memberi nyawa-Nya utk kehadiranku di dunia ini. Bilapun sampai hari ini aku masih bertahan, pun itu adalah karunia-Nya yang melimpah atas setiap orang yang berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan kehidupanku.  Aku telah dan sedang menikmati karya-Nya yang Agung dan Mulia hingga detik ini. Aku pernah merasa manis, sukacita, damai, bahagia pun pernah merasa pahit, jatuh, kehilangan.  Bilapun terkadang aku merasa  menderita karena berbagai hal yang sedang terjadi, namun saat aku menyadari itu bukanlah keinginan-Nya. Ketika sekeliling menguatkanku atas masalah yang kuhadapi “Sadarilah Dik, masalah hanya akan membimbing kita utk sadar bahwa tanpa Dia kita tak dapat menikmati yang baik...”. 
How Blessed I am? I Cant talk more. I just want to say.. Thanks God  for 20 years old. Thank you Jesus for saving , loving,  guiding and lifted me when i fall. Its only by Your Grace. 
And than, Thank you for everything i have today because yourselves Mama Bapak, All of my family. Terimakasih sahabat, teman, saudara/i ku yang turut hadir dalam kehidupanku. Kalian luar biasa. Aku mengasihi kalian. God bless us.

Suatu Ketika...

Suatu Ketika . . . Dia tidak sempurna. Pun, aku sama saja. Kami hanya berusaha saling menerima. Mengurai masa lalu. Mengikhlaskan kecewa. Ba...