Topik kali ini “I, You, and God” atau kalau diterjemahkan berarti “Saya, kamu, dan Tuhan”. Konteks topik ini adalah prapacaran, pacaran, or bahkan kehidupan pernikahan.
Sering kita lihat saat orang PDKT (pendekatan – pra pacaran) atau yang lebih banyak terjadi itu saat pacaran, terlihat jelas kedekatan antara dua insan. Kemana-mana berdua, kalau ada si wanita berarti ada si pria. Kalau ada si pria, berarti ada si wanita. Ke mana-mana selalu bersama.
Seperti botol dengan tutupnya, seperti amplop dengan lemnya, seperti bunga dengan tangkainya. Pokoknya lengket ket ket, dekat kat kat. Dunia rasanya milik berdua.Ya itulah hal-hal yang biasa kita lihat. Menarik sekali untuk mengalami atau memperhatikan fenomena tersebut. Ingat, Pengkotbah 3:11a: Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Dalam kehidupan ini tidak semuanya berjalan mulus, lancar-lancar, baik-baik, indah-indah saja, tidak demikian. Seringkali yang terjadi adalah masalah datang menghadang. Saat masalah datang, saat itulah ujian akan hubungan dimulai.
Ya, dari segi manusia dibutuhkan kepercayaan, komitmen, kesetiaan, kejujuran, komunikasi yang baik, saling menghormati, saling mencintai, saling mengerti, saling menghargai, menerima apa adanya, menempatkan kepentingan pasangan dan anak-anak (kalau sudah berkeluarga) sebagai yang lebih utama dari kepentingan pribadi dan masih banyak lagi yang lain. Namun ada satu elemen yang sangat penting tapi seringkali terlupakan. Elemen itu adalah Tuhan.
Mungkin Anda akan mengatakan: “Ah, kamu terlalu fanatik, segala-segala dikaitkan dengan Tuhan. Apa hubungannya Tuhan dengan relationship atau kehidupan pernikahan?”. Kalau misalnya itu yang Anda katakan, saya akan katakan: “Semuanya dan segalanya.” Suatu hubungan (pra pacaran/pdkt, pacaran, dan pernikahan) semuanya diinisiasi (diawali) oleh Tuhan. Tidak percaya? Coba tanyakan pada yang sudah menikah bagaimana mereka bertemu, kemudian menjalin hubungan pacaran, sampai ke akhirnya menikah dan kehidupan pernikahan. Dari sekian banyak cerita yang terkumpul, hanya satu kesimpulan yang bisa diambil, yaitu karena Tuhan memang menghendaki demikian dan memang adalah inisiatif dari Tuhan suatu hubungan bisa terbentuk (lihat pada kasus Adam dan Hawa pada Kejadian 2:18-25 yang memang sangat terlihat jelas).
Dalam Tuhan tidak ada yang kebetulan, karena Ia terlalu berkuasa untuk dikalahkan dan ditentukan oleh hal-hal yang sifatnya kebetulan. Mengapa faktor Tuhan ini mengambil peranan sentral dalam setiap hubungan yang kita jalin? Bahkan bukan hanya dalam setiap hubungan yang kita jalin, tetapi juga dalam setiap aspek kehidupan kita, peranan Tuhan begitu krusial dan sentral. Sebab memang segala sesuatu bermula dari Dia, kita diciptakan untuk memenuhi panggilan-Nya, yaitu untuk memuliakan Dia dalam apapun yang kita lakukan. Kolose 3:23: Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Maka tak heran apabila orang tidak berfokus pada Dia, ada sesuatu yang hilang dan makin lama akan terasa ada sesuatu yang kosong dalam dirinya.
Seringkali dalam hubungan kita berfokus pada aspek horisontal. Hubungan antara aku dan dia (I and You). Ya ini tidak salah, dalam prapacaran, dalam pacaran, dan bahkan dalam pernikahan, kita perlu fokus pada aspek horisontal ini. Dalam prapacaran, kita perlu mengenal si dia dengan lebih baik lagi, apa yang dia sukai, yang tidak disukai, visi dan misinya, pandangan hidupnya, karakternya, dst. Dalam pacaran, kita perlu menyelami lebih jauh lagi mengenai rencana hidupnya dan kehidupannya. Dalam pernikahan, bahkan kita tidak akan berhenti untuk terus mengenali si dia (dari cerita orang yang sudah berpuluh-puluh tahun menikah pun, katanya selalu bisa menemukan hal-hal baru dalam diri pasangannya).
Dalam prapacaran hal yang paling sulit adalah pada saat ada sosok lain yang muncul. Namun hal ini tidak akan menjadi masalah apabila aspek yang kedua, yaitu aspek I dan God, cukup kuat. Karena pada
Roma 8:28: Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
Marriage Takes Three
Marriage takes three to be complete;
It’s not enough for two to meet.
They must be united in love by love’s Creator, God above.
A marriage that follows God’s plan
Takes more than a woman and man.
It needs a oneness that can be only from Christ-marriage takes three.
Kalau menurutmu tulisan ini bermanfaat jangan lupa di share ya, bagi teman kamu yang membutuhkan π


















